Monday, December 7, 2009

"Worldview"

Oleh: Hamid Fahmy Zarkasyi


Adalah Samuel P.Huntington yang menamai konflik global sekarang ini dengan clash of civilization melalui bukunya berjudul The Clash of Civilization and the Remaking of the World Order (1996). Alasannya, sumber konflik ummat manusia saat ini bukan lagi ideologi, politik atau ekonomi, tapi kultural. Sebab semua orang kini cenderung mengidentifikasi diri dengan identitas kultural. Jika kultur atau peradaban adalah identitas, maka identitas peradaban itu sendiri adalah worldview. Jadi clash of civilization berindikasi clash of worldview.


Banyak yang tidak sepakat dengan Huntington. Mungkin karena superficial atau provokatif. Seakan berbeda budaya bisa berarti perang. Namun Huntington bukan tanpa pendukung. Peter Berger misalnya, setuju konflik politik sekarang ini adalah collision of consciousness (benturan kesadaran atau persepsi), kata lain dari clash of civilization. Tapi pilihan kata, clash dan collision memang vulgar, masih kalah lembut dari kata-kata al-Attas divergence of worldviews. Tapi benarkah kini sedang terjadi clash of civilization?


Hampir semua sepakat bahwa setiap peradaban mempunyai worldview. Jerman lebih dulu memiliki istilah weltanschauung: welt = dunia, anschauung = persepsi, berarti persepsi tentang dunia; di Italia digunakan istilah “konsepsi tentang dunia”, di Perancis kata weltanschauung dipinjam dan diartikan dengan “pandangan metafisis tentang dunia dan konsepsi kehidupan”, di Rusia disebut mirovozzrenie berarti pandangan dunia. Dan semua setuju bahwa kata worldview harus diikat oleh predikat kultural, religius, ataupun saintifik. Jadilah, misalnya istilah Christian Worldview, Medieval Worldview, Scientific Worldview, Modern worldview dan the Worldview of Islam. Semua mempunyai cara pandang yang ekslusif. Tapi semua orang tahu disitu ada proses saling meminjam antar peradaban, antar worldview. Mungkin ini sebabnya di Barat orang mudah menerima denominasi berdasarkan worldview ketimbang “agama”. Hegel misalnya ketika ia baca teologi Hindu ia spontan menerimanya sebagai Indischen weltanschauung. Bahkan Ninian Smart menjadikan worldview sebagai alat untuk mengekplorasi kepercayaan manusia (crosscultural explorations of human beliefs).


Banyak lapisan makna didalam worldview. Membahas worldview bagaikan berlayar kelautan tak bertepi (journey into landless-sea) kata Nietsche. Meskipun begitu di Barat ia tetap hanya sejauh jangkauan panca indera. Luasnya worldview bagi Kant, Hegel dan juga Goethe, hanya sebatas dunia inderawi (mundus sensibilis).Tapi bagi Shaykh Atif al-Zayn bukan luasnya yang penting, tapi darimana ia bermula, maka worldview adalah mabda’ (tempat bermula). Disitu dapat diketahui spektrum makna worldview. Sedangkan worldview Islam seperti yang digambarkan al-Attas tidak sesempit luasnya lautan dalam planet bumi, tapi seluas skala wujud, ru’yat al-Islam lil wujud.


Tapi memakai worldview sebagai matrik agama, peradaban, kepercayaan atau lainnya sah sah saja. Sebab worldview bisa diukur dari apa yang ada dalam pikiran orang. Oleh sebab itu dilapisan dalam worldview terdapat conceptual framework (kerangka kerja konseptual). Tidak salah jika kemudian Dilthey menjadikannya sebagai asas formulasi epistemologis yang obyektif. Worldview lalu berfungsi sebagai asas ilmu-imu sosial (Dilthey), dan ilmu-ilmu alam (Kant). Thomas S Kuhn (1922-1996) bahkan menyulap worldview menjadi paradigma yang menyediakan nilai, standar dan metodologi tertentu yang mengikat kuat kerja-kerja saintifik. Ia bahkan menyebutnya matrik disipliner (disciplinary matrix) yang memiliki elemen yang tersusun. Ini mengingatkan kita pada kata-kata Husserl dalam Crisis of European Sciences, bahwa worldview itu akhirnya mirip dengan kepercayaan keagamaan yang bersifat individual. Di satu sisi ini merupakan dinamika pemikiran yang positif. Ringkas kata, paradigm dan worldview memiliki variable-variable konsep yang terstruktur, yang berproses menjadi framework pemikiran, dan disiplin ilmu pengetahuan. Itulah sebabnya ilmu menjadi sarat nilai, alias tidak netral.


Dalam Islam, sejauh apapun fikiran kita berpetualang wahyu tetap menjadi obornya. Al-Qur’an sendiri sarat dengan sistim konsep (conceptual scheme). Ilmu-ilmu seperti fiqih, hadith, tafsir, falak, tabi’ah, hisab, dsb, adalah derivasi dari konsep-konsep dalam wahyu. Artinya worldview Al-Quran telah menghasilkan framework dan disiplin ilmu yang juga ekslusif. Orang Barat, misalnya, tidak bisa mengadopsi metode ta’dil dan tajrih ilmu hadith, atau mengadopsi ilmu fara’id dalam Islam, dst. Sebaliknya orang Islam juga tidak bisa terima teori kebenaran dikhotomis: obyektif dan subyektif. Tidak juga bisa menerima doktrin pan-seksualisme Freud, doktrin evolusi Darwin dsb. Setiap teori atau konsep berangkat dari framework dan setiap framework diderivasi dari worldview.

Kalau saya terpaksa setuju dengan Huntington, maka saya hanya setuju pada dataran epistemologis. Itupun kalau ini termasuk dalam thesis Huntington. Pada dataran ini memang seperti tidak terjadi apa-apa, tidak terlihat pula konflik sosial, lebi-lebih senjata. Senjatanya adalah pena-pena para pemikir, yang dalam Islam dihitung baik pedang syuhada. Akibatnya, tidak kasat mata. Hanya saja disana sini terjadi kebingungan (confusion) intelektual, dan kehilangan identitas (lost of identity). Namun disini istilah clash of worldview lebih tepat disebut worldview intrusion.


Banyak contoh yang bisa membuktikan bahwa pemikiran ummat Islam kini sedang dirasuki oleh worldview peradaban lain. Banyak cendekiawan Muslim atau “ulama” memuji habis Immanuel Kant, Karl Marx, Thomas S Kuhn, Derrida dkk., tapi mengkritik al-Ash’ari, al-Ghazzali, al-Shafi’i dll. Ada pula yang ragu apakah al-Qur’an benar-benar wahyu Allah, sedangkan ia percaya rukun Iman. Kini malah ada wanita Muslimah berjilbab, tapi protes mengapa Tuhan begitu maskulin. Malah tidak aneh jika seorang ahli tahajjud dengan keningnya yang hitam, juga seorang Marxist. Ia memahami makna Tawhid, tapi tidak tahu berfikir tawhidi. Imannya tidak didukung oleh akalnya sehingga ilmunya tidak menambah imannya. Muslim tapi worldview dan framework berfikirnya tidak. Itulah dampak worldview intrusion.


Bagi yang tidak percaya thesis Huntington, boleh jadi ia percaya pada Derrida (1930-..). Sebab tradisi intelektual Barat yang oleh Derrida disebut logocentrism telah dirobohkan (deconstructed). Zaman postmodern telah menjadi post-worldview era. Tidak ada lagi worldview. Tidak ada kepastian akan kebenaran tentang alam, apalagi framework. Semua bebas memahami semua. Jadi tidak ada clash of worldview. Tapi bukankah Derrida sedang mengusung worldview dan framework dia sendiri?


Humorpun bagi Witgenstein masih termasuk worldview, meski ia hanya ilusi manusia tentang dunia. Dalam teologi Kristen sendiri konflik kebaikan dan kejahatan dianggap sebagai konflik worldview. Konflik antara kerajaan Tuhan dengan kerajaan Setan. Jadi clash of worldview atau intrusion of worldview bukanlah skenario peperangan, karena ia terjadi dalam diri kita sehari-hari, dalam akal dan hati kita. Oleh sebab itu kita tidak hanya perlu ditunjukkan tentang hakekat kebenaran tapi juga jalan menuju kebenaran. "Allahumma arina al haqqan warzuqnat tiba’ah, wa arinal bathila-bathilan warzuqnaj tinabah.” [www.hidayatullah.com]


Penulis Direktur Eksekutif Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS)

Friday, December 4, 2009

SEMINAR SEHARI PENGUKUHAN PANDANG ALAM ISLAM

Dalam menghadapi kegentingan masalah masyarakat Islam dalam pelbagai bidang dewasa ini, satu usaha yang terencana dan teliti bagi merungkai masalah tersebut amat diperlukan. Oleh sebab itu, segala penyelesaian yang ingin dilakukan haruslah bermula dengan usaha memperbetulkan cara berfikir masyarakat Islam terutama yang berhubung dengan unsur-unsur penting yang membentuk alam pemikiran mereka.

Bertitik tolak dari kesedaran tentang pentingnya usaha tersebut satu seminar sehari pengukuhan Pandangan Alam Islam akan dianjurkan oleh Himpunan Keilmuan Muda (HAKIM) dengan kerjasama Persatuan Kebangsaan Pelajar Islam Malaysia (PKPIM) dan Institut Integriti Malaysia.

Yuran

Seminar DAN Syarahan Perdana:
Umum : RM100 seorang
Pelajar : RM35 seorang

Syarahan Perdana SAHAJA:
Umum : RM50 seorang
Pelajar : RM20 seorang

Aturcara Program (tentatif):
9.00 – 10.30 pagi:
- Perasmian oleh Tetamu Kehormat
- Ucap Utama oleh Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud, UKM
Tajuk: Pengukuhan Pandangan Alam Islam Di Kalangan Masyarakat Islam Kini: Cabaran dan Harapan

11.00 – 1.00 ptg: Sidang Pertama
- Pembentang:
1. Dr. Mohd Zaidi Ismail, IKIM
Tajuk: Faham Ilmu Dalam Islam: Satu Pengenalan Ringkas
2. Dr. Mohd Farid Mohd Shahran, UIAM
Tajuk: Makna dan Matlamat Agama dalam Islam

2.00 – 3.30 ptg: Sidang Kedua
- Pembentang:
1. Dr. Mohd Sani Badron, IKIM
Tajuk: Adab dan Ta’dib sebagai Asas Pendidikan Islam
2. Dr. Adi Setia Mohd Dom, UIAM
Tajuk: Islam dan Falsafah Sains

3.45 - 5.30 ptg: Sidang Tiga
- Pembentang:
1. Dr. Khalif Muammar, UKM
Tajuk: Pandangan Islam terhadap Tradisi dan Kemodenan
2. Dr. Wan Azhar Wan Ahmad, IKIM
Tajuk: Islam dan Cabaran Sekularisasi dan Pembaratan

5.30 - 8.30: Rehat

9.00 – 11.00 mlm:
- Syarahan Perdana
Oleh: Professor Dr. Syed Muhammad Naquib al-Attas
"Reviving The Worldview of Islam: Internal and External Challenges"

Untuk urusan pertanyaan dan pendaftaran, sila berhubung terus dengan:
Abdul Muntaqim (019-8285019) atau,
hantarkan e-mail ke alamat:
seminar.hakim@gmail.com

Terima kasih.

Wednesday, December 2, 2009

ALHAMDULILLAH

Bismillahirrahmanirrahiim.
ShadaqALlah al-'Adhiim.

Mahu

Mahu beritahu ini pada kamu;
Kamu yang terbaik.

Mahu buat ini untuk kamu;
Berada di sisi dan tak pernah pergi.

Mahu lihat ini di wajah kamu;
Ketenangan dan senyuman indah.

Mahu ada ini dekat kamu;
Kesejahteraan, keselamatan sampai bila-bila, di mana-mana.

Mahu ucap ini pada kamu;
Aku tak pernah putus ingat kamu.

Tuesday, December 1, 2009

Cerita Diana*

Bismillahirramanirahiim.

Alhamdulillah, masih punya baki tenaga, masa, buah fikiran untuk dikongsi bersama. Moga memberi manfaat kepada semua termasuk diri.

Entri kali ini bukan seperti entri-entri sebelumnya yang bersifat serius dan formal. Kali ini hanyalah sekadar perkongsian pengalaman dua insan; aku dan Diana.

Diana seorang gadis awal remaja, 11 tahun yang akan menamatkan pengajian sekolah rendah yang penuh dengan saat-saat ceria, gembira, sedih, menangis dan ketawa. Seorang adik dan kakak dalam keluarga. Diana seorang yang ramah, selalu ingin menjadi ketua dan mendapat perhatian selayaknya dari teman-teman dan masyarakat sekeliling.

Seperti gadis lain Diana punya cita-cita mahu cemerlang dalam pelajaran namun dia juga faham akan kondisi keluarga yang memerlukan dia berkorban masa luangnya juga masa belajar untuk menjaga adik-adiknya tika ibu perlu menyediakan kuih untuk jualan, tika abang perlu ke kelas tuisyen dan tika adik-adik merengek mahukan makan, susu, mahu dibersihkan dan diberi perhatian.

Keluarga Diana bukan dari kalangan yang hidup punya serba-serbi. Walaupun menetap di bandar keluarga Diana masih tidak mampu untuk mengadakan sesuatu yang dianggap kebiasaan bagi masyarakat bandar. Mereka hidup sekadarnya tidak mewah apa lagi untuk hidup dalam kelewahan.

Diana seorang yang gemar membaca dan menulis. Di sekolah, tika tiba waktu Pelajaran Komputer, Diana merupakan yang pertama antara rakan sekelasnya yang tiba awal di Makmal Komputer. Dia akan menggunakan sepenuh masa yang diberi untuk mengakses laman-laman sesawang yang dirasakan berguna.

Apabila ada masa terluang, Diana akan membelek dan membaca apa sahaja buku-buku yang dijumpainya di rumah termasuk buku cerita kanak-kanak, buku teks sekolah dan majalah-majalah.

Aku amat kagum dengan sifat Diana yang tak malu untuk belajar.

Allah Maha Pengasih ketemukan kami dalam satu program yang aku dan teman-teman anjurkan. Diana merupakan anak kepada Kak Latifah*, seorang senior yang juga antara urusetia yang mengendalikan program. Kak Latifah membawa kesemua anak-anaknya memandangkan ketika itu cuti sekolah penggal akhir telah pun bermula. Bukan sahaja Diana, aku juga berkesempatan mengenali seisi keluarganya termasuk suami Kak Latifah sendiri.

Aku begitu mudah mesra dengan Diana bukan kerana sifatku yang sememangnya meminati kanak-kanak tetapi kerana sikap Diana sendiri yang gemar bertanya dan berkongsi.

Ketika aku dan teman mengendali slot LDK (Latihan Dinamika Kumpulan), aku diminta Kak Latifah untuk membawa Diana bersama. Tujuannya adalah untuk Diana belajar sebanyak mungkin dari aku dan teman-teman termasuk mengalami sendiri bagaimana rasanya menjadi peserta program Latihan Kefasilitatoran.

Setiap perkataan atau istilah yang digunakan yang kurang difahami dan dirasakan sukar atau baru, Diana tidak takut untuk bertanya dan belajar. Setiap persoalan yang berlegar di dalam benaknya akan terus diajukan padaku tanpa segan silu.

Semasa program, aku membawa komputer ribaku bersama kerana ada kerja yang perlu aku selesaikan sebelum program tamat. Aku dapat lihat sinar pada mata Diana ketika dia melihat komputer riba itu. Cepat-cepat dia duduk rapat di sisiku.

"Komputer akak eh?"

"Iye, kenapa Diana?"

"Takdelah" Diana menjawab sambil tersenyum simpul. Tangannya menyentuh skrin komputer kemudian ke papan kekunci.

"Dapat internet ke kak?"

"Dapat", jawab aku sambil memulangkan senyuman.

"Diana ada emel?" soalku sengaja memancing umpan.

"Tak ada, tapi kawan ada", "Akak ada emel? Akak buat apa tu? Kenapa akak baca tu semua? Kerja ke?"

Banyak sungguh soalannya. Bertubi-tubi. Tak tahu yang mana satu harus aku jawab dulu.

"Akak kena baca ni sebab nanti bila program takde la akak ternganga bila ada perbincangan tentang ni nanti."

Diana memandang skrin lama. Aku cuba menyelami kemahuannya.

"Diana nak cuba?"

Terukir senyuman lebar di bibir. "Nak kak!" sahutnya gembira.

"O.K. tapi boleh guna Microsoft Word je tau. Jangan sentuh atau buka yang lain. Tau?" Pesan aku bersungguh-sungguh.

Aku mahu beri pengalaman itu pada dia. Aku mahu Diana bermotivasi untuk lebih cemerlang. Diana tahu bahawa pelajar universiti seperti aku punya peluang untuk menggunakan komputer peribadi. Aku mahu dia punya keinginan untuk melangkah jauh. Bukan sekadar angan-angan kosong.

"O.K. O.K." Diana mengangguk laju.

Aku pindahkan komputer ribaku ke atas ribanya. Tak lama selepas beberapa minit aku tinggalkan dia bersendirian kerana aku harus kembali ke dalam kumpulan.

Selang beberapa minit Diana datang perlahan merapati, "Akak, Ummi suruh berhenti. Ummi kata nanti akak nak pergi lain. Ummi suruh akak simpan." Aku mengangguk tanda faham.

Sebelum aku menyimpan komputer ribaku, aku menyimpan titipan cerita yang Diana taipkan dalam komputer itu. Aku simpan dokumen itu dengan nama "Cerita Diana".

Bila aku buka kembali, rupanya cerita itu masih berbaki, masih belum punya klimaks mahupun penutup.

Pada suatu hari seorang pengemis itu berfikir bagai mana ingai mencari makanan untuk anak dan isteri. Pengemis mendapat idea untuk mencuri sayur-sayuran di rumah orang kaya itu. Pengemis mencuri


Aku amat berharap coretan Diana yang kecil ini dapat dibesarkan Aku harap dapat ketemu lagi dengan Diana, adikku yang bijak!

Aku bersama Diana

"Oh Allah, temukan kami kembali dalam Rahmah dan InayahMu. Amiin."

*bukan nama sebenar
Wallahu'alam.